Pages

Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Hari Senin kemarin (13/5) saya mendapatkan hal yang paling saya tunggu-tunggu sejak dua hari sebelumnya, yaitu undangan untuk menghadiri Debat Calon Gubernur Jawa Tengah yang diselenggarakan di Gedung Soedharto, SH Universitas Diponegoro, Semarang pada hari Selasa (14/5). Kabar mengenai adanya debat di kampus  sebenarnya baru saya dapatkan hari Sabtu sebelumnya di Harian Kompas, semenjak itupun saya berharap bisa hadir pada acara yang lumayan prestisius tersebut. Bagaimana tidak, acara yang secara langsung disiarkan oleh Kompas TV ini menghadirkan semua pasangan Calon Gubernur & Calon Wakil Gubernur yang akan bertarung pada Pemilihan Gubernur Jateng tanggal 26 Mei esok. Dan singkat cerita, akhirnya saya pun mendapatkan undangan itu dari seseorang! Alhamdulillah..

***

Waktu menunjukkan pukul 18:50 ketika saya berada di gerbang Gedung Soedharto, SH menjelang dimulainya acara. Nampak para awak media yang berasal dari Borobudur TV (Grup Kompas TV), Kompas TV, maupun RRI Jateng yang tengah bersiap melaksanakan tugasnya untuk meliput salah satu momen penting bagi masayarakat Jawa Tengah ini.  Sebelum memasuki ruang auditorium dimana acara berlangsung, seluruh penonton diperiksa ketat oleh penjaga keamanan tak terkecuali para pendukung pasangan calon dan tentunya saya juga. Setelah di dalam, ternyata ruangan ini sudah dipenuhi oleh para kawan-kawan mahasiswa (yang mendapat undangan) dan para pendukung calon yang tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel calon yang mereka dukung. Dibawah kilauan lampu sorot yang benderang, selain para ‘suporter’ yang berteriak riuh rendah, para kru Kompas TV pun berlalu-lalang mempersiapkan kamera dan segala peralatannya, sungguh sebuah atmosfer yang tak biasa di gedung yang sering menjadi tempat berlangsungnya Seminar dan berbagai macam pelatihan di kampus ini.

Sebelum dimulai, acara off air diisi dengan hiburan dari Woro ‘Diatas Rata-Rata’ yang menyanyikan Keroncong Jawa dengan apik, cukup memberikan ketenangan setelah mendengarkan hiruk pikuk dari para pendukung calon pada waktu sebelumnya. Setelah lagu dinyanyikan rampung, semua orang pun bertepuk tangan dan tak lama berselang setelah itu keadaan pun riuh kembali dengan teriakan para pendukung. Akhirnya tepat pukul 07:00, kru Kompas TV memberitahukan bahwa acara on air akan segera berlangsung dan memberi peringatan kepada para pendukung calon agar tetap kondusif. Acara ini dipandu oleh host dari Kompas TV yang saya lupa namanya dan mulai memanggil para calon Gubernur-Wakil Gubernur sesuai dengan nomor urut calon, mulai dari Hadi Prabowo-Don Murdono (HP-Don), Bibit Waluyo-Sudijono SA (BISSA), dan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko (GAGAH).

Sesi pertama dimulai dengan pertanyaan dari panelis yang terdiri dari seorang seniman Jaya Suparna & Pengamat Ekonomi Undip, Prof DR FX Sugiyanto. Para calon dipersilahkan memilih nomor amplop yang tertera pada layar belakang untuk memilih panelis. Pada sesi ini, panelis bertanya secara kritis kepada semua calon dengan waktu yang terbilang sangat sedikit, yaitu hanya sekitar 3 menit untuk tanya-jawab. Terlihat pada sesi ini, secara umum para calon Gubernur tampil lebih dominan daripada para calon Wakil Gubernur yang seolah tidak mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan panelis. Baru pada pasangan nomor 3, Hadi Prabowo-Don Murdono  berani berbagi jawaban, namun jawaban dari keduanya bertolak belakang. Hal ini menjadi titik lemah yang diserang oleh Pak Jaya Suparna dan menyarankan mereka dengan setengah bercanda untuk berdiskusi terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan. Tak disangka, hal ini pun mengundang tawa dari semua hadirin dan cemoohan dari pendukung lawan. 

Para calon pada sesi ini menjawab dengan gaya khas mereka masing-masing. Hadi Prabowo menjawab pertanyaan  dengan gaya birokratnya, dengan sesekali mengutip peraturan-perturan pemerintah dan perundang-undangan, maklum ia bisa dibilang senior dalam birokrasi karena telah berkecipung dalam birokrasi Jateng semenjak tahun 1988. Sedangkan Bibit Waluyo lebih senang menghindari ‘bahasa-bahasa surga’, yang mudah diucapkan namun susah dilaksanakan menurutnya. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh pengalaman beliau sebagai Gubernur Jateng saat ini. Berbeda dengan dua kompetitornya, Ganjar Pranowo memberikan konsep-konsep dan solusi dengan penuh semangat untuk menghadapi problematika yang ada di Provinsi Jawa Tengah ini. Maklum, walaupun rambutnya mulai beruban, namun dapat dianggap Cagub termuda diantara para kompetitornya.

Setelah beradu argumen dengan panelis secara sengit, sesi kedua pun dimulai dengan sesi yang belum pernah saya lihat dalam acara debat di TV: Kuis. Ya! Kali ini para pasangan calon diajak untuk mengadu wawasannya tentang Jawa Tengah dengan cara menekan bel. Namun sayang,  bel pasangan Bibit Waluyo-Sudijono SA nampaknya mengalami sedikit hambatan, sehingga tidak dapat digunakan. Pak Bibit pun sedikit kebingungan dengan memencet bel berulang kali.  Melihat ini, para hadirin pun tertawa dengan tingkah kocak Gubernur Jateng ini. Oleh karena itu, mereka pun disuruh menjawab dengan cara mengangkat tangan terlebih dahulu. Walaupun begitu, Pak Bibit nampaknya lebih paham terkait Jawa Tengah karena sering menjawab dengan cepat dan tepat pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara, mengungguli pasangan lain. Namun diakhir sesi, sang pemenang ternyata pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko yang terus mengejar ketertinggalan di menit-menit terakhir. Selamat!

Setelah sejenak diajak tertawa oleh para calon, kini akhirnya memasuki sesi terakhir dengan mempersilahkan pasangan calon untuk menanyakan calon  yang lain. Hal yang paling seru pada sesi ini adalah ketika Ganjar Pranowo menanyakan kepada pasangan Hadi Prabowo-Don Murdono terkait rencana aksi reformasi birokrasi yang akan dilakukan oleh pasangan tersebut. Dengan khasnya, Hadi Prabowo menjawab dengan tenang dan sedikit mengutip peraturan-peraturan yang ada, namun belum selesai menjawab, Ganjar menyanggah dengan mempertanyakan rencana konkret yang ditawarkan. Karena kurang sigap, akhirnya pertanyaan tersebut dijawab oleh sang wakil, Don Murdono dengan nada emosional. Sehingga tak pelak, mengundang perdebatan diantara kedua pasangan tersebut. Dan kesimpulan pun urung didapatkan seiring waktu yang telah habis.

Acara pun berakhir dengan rangkulan dan salaman dari para calon sambil diiringi oleh lantunan lagu keroncong yang dinyanyikan oleh Woro 'Diatas Rata-Rata'...

****

  Itulah gambaran dari acara “Debat Kandidat Menuju Jateng Satu” yang disiarkan langsung oleh Kompas TV, penuh dengan keriuhan pendukung dan adu tajam argumen dari para calon ‘lurahe Jateng’. Semoga kedepannya Jateng dipimpin oleh orang yang tepat, sehingga mampu mewujudkan Jateng yang gemah ripah loh jinawi. Amin



Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2012, ratusan mahasiswa Undip berunjuk rasa menolak kebijakan uang kuliah tunggal yang dikeluarkan oleh pihak Rektorat. Kebijakan yang lebih dikenal dengan tarif tunggal ini, menurut Reza Aulia Rahman Bhaktinagara, Presiden BEM-KM Undip, sangatlah memberatkan mahasiswa baru karena kemampuan finansial orang tua masing-masing mahasiswa berbeda. Selain itu, dengan adanya kebijakan tersebut tentunya akan berdampak langsung pada mahasiswa penerima beasiswa, seperti Bidik Misi, PPA, dan BBM.
Sekitar pukul 06.00 WIB, para mahasiswa telah berkumpul di Gedung PKM Tembalang dengan menggunakan pakaian hitam dipadu jas almamater dan membawa kertas orasi, bendera fakultas, pengeras suara, beserta peralatan demo lainnya. Setelah dirasa cukup banyak, akhirnya teman-teman mahasiswa melakukan long march  pada pukul 06.30 WIB menuju Bundaran Widya Puraya guna mencegat Rektorat yang sedang melakukan kegiatan  bersepeda sehat berkeliling kampus bersama para pejabat teras & beberapa mahasiswa di universitas ini.
Sebelum sampai di Bundaran Widya Puraya, teman-teman mahasiswa melakukan orasi di Bundaran Soedharto dengan menampilkan orator di masing-masing fakultas. Tentunya, kegiatan ini membuat lalu lintas di dalam kampus menjadi sedikit tersendat.
Fakultas Psikologi sendiri mengirimkan perwakilannya berjumlah 18 orang yang berasal dari angkatan 2010 dan 2011 di berbagai latar belakang kegiatan. Sebenarnya, unjuk rasa ini telah terkoordinir pada sore hari sebelumnya (31/5) di Bundaran Widya Puraya yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa dengan berbagai latar belakang organisasi dan angkatan. Adapun acara yang kemudian disebut dengan  Konsolidasi Akbar Tarif Tunggal bersama Aliansi seluruh Elemen Gerakan dan Fakultas UNDIP ini menyampaikan beberapa pernyataan, diantaranya:
  1. Info Terbaru dari PR II (Pengesahan Tarif Tunggal se Nasional akan dilaksanakan Sabtu,2 Juni 2012 di Bandung, dengan ketentuan seluruh PTN di Indonesia diharuskan Menerapkan sistem tarif tunggal dan nominal tarif dikembalikan pada universitas masing-masing.
  2. Untuk sementara Undip memasang tarif sekitar 7 juta/ semester untuk Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Sedangakan yang cukup mahal adalah  Fakultas  Kedokteran 20 juta/semester. Namun, tarif ini masih bisa naik/turun. 
  3. Mahasiswa Undip panaskan isu, kemudian membangun Aliansi dengan mahasiswa universitas negeri di seluruh Indonesia untuk menolak bersama penerapan tarif tunggal yang mahal. 
  4. Sikap Nyata Mahasiswa Undip: Kepung Rektorat, dengan mengoptimalkan semua wadah Mahasiswa di UNDIP dengan Tuntutan Sebagai Berikut :
 a.    Pernyataan Sikap Rektor yang Jelas dan Pro Mahasiswa
b.    Mahasiswa mengajukan MoU atau Pakta Integritas dengan isi “Menolak Tarif Tunggal”  dimana dengan cara negosiasi tarifnya atau minimal menunda untuk tahun ini. Agar mahasiswa masih mempunyai waktu untuk merancang aksi lagi
c.    Kejelasan landasan hukum untuk penerapan tarif tunggal tersebut.
d.    Lakukan booming isu melalui media-media sosial ke seluruh kawan-kawan mahasiswa di seluruh Universitas di Indonesia dengan hastag #TolakTarifTunggal.
5.     Massa yang sanggup dikerahkan Seluruh Aliansi berjumlah 540 mahasiswa, dengan Gerakan Mahasiswa UNDIP Menggugat.

           Setelah bertemu dengan Rektor, Prof Sudharto PH MES,PhD di sela-sela kegiatan  bersepeda sehat keliling kampus, akhirnya teman-teman mahasiswa dan Rektor sepakat untuk memberikan tarif yang murah untuk mahasiswa baru nanti. “ Saya sepakat dengan seluruh mahasiswa jika Undip adalah universitas rakyat yang biayanya terjangkau dan murah,” ujar Pak Rektor.